Archive for the Category ◊ Tips ◊

Author:
• Friday, April 20th, 2012

Penasaran? Ikutin ahlinya disini http://www.towerofbabelfish.com/Tower_of_Babelfish/Welcome.html

Artikel yang dimuat di Lifehacker.com saya copas ya, kerennn berguna bangets =)

I Learned to Speak Four Languages in a Few Years: Here’s How

Lifehacker reader Gabriel Wyner was tasked with learning four languages in the past few years for his career as an opera singer, and in the process landed on “a pretty damn good method for language learning that you can do in limited amounts of spare time.” Here’s the four-step method that you can use, too (and you don’t have to invest hundreds in a language course like Rosetta Stone).

This is the method I’ve used to learn four languages (Italian, German, French and now Russian); it’s the method that got me to C1 fluency in French in about 5 months, and I’m currently using it with Russian (and plan on reaching C1 equivalent fluency by September).

more…

Share
Category: Tips  | Leave a Comment
Author:
• Friday, April 20th, 2012

Ingin belajar bahasa? berikut ini tingkat kesulitan dan estimasi waktu yang diperlukan untuk belajar. Bahasa Indonesia ga dimunculkan yaks.. mungkin dibawah kateogri Easy hihiihi..
Untuk memperbesar, silah klik image nya =)

Share
Category: Tips  | Leave a Comment
Author:
• Thursday, June 23rd, 2011

Saya mendapatkannya dari link ini. Feeling dan perasaan mengatakan ini tipsnya jitu, jadi diarsip =)

Empuknya Olahan Kambing Muda ala Timteng

OLAHAN kambing yang satu ini dijamin empuk, renyah, dan tanpa aroma prengus. Daging kambingnya diolah menjadi tongseng, gulai, dan sup. Soal rasa, meminjam istilah yang sering diucapkan tokoh Bondan Winarno, benar-benar mak nyus.

RAHASIA keempukannya terletak pada pemilihan bahan yang menggunakan daging kambing muda. Ada yang menggunakan balibu (kambing di bawah lima bulan), balikan ada yang mengistilahkan batibu (bawah tiga bulan).
Jika Anda berkunjung ke Rumah Makan Madinah yang ada di Ciputat, Tangerang, akan bisa menemukan aneka masakan berbahan daging kambing muda tersebut. Untuk menjaga kualitas bahan baku dagingnya maka kambingnya harus benar-benar muda.

“Bila tidak muda, mau diproses apapun, hasilnya tetap tidak benar-benar empuk. Maka kami sangat selektif dalam memilih kambing,” kata Royani (55), pemilik Rumah Makan Madinah. Untuk urusan memilih daging kambing muda, Royani punyajurus jitu. Ia memilih yang uratnya tidak terlalu merah, karena jika uratnya merah berarti kambing tua. Bila belum berpengalaman, mungkin malah memilih yang merah karena disangka lebih segar.

Untuk pemenuhan kebutuhan di rumah makan tersebut, di samping mengambil daging kambing muda dari suplier, Royani juga memelihara kambing sendiri. Hal itu dilakukan agar swaktu-waktu butuh ekstra tambahan daging, bisa diambilkan langsung dari peliharaan sendiri.
Selain daging yang empuk, ada keunggulan lain dari aneka masakan kambing di sini, yakni dagingnya yang tidak bau prengus. Menurut Royani, cara penanganan daging itu juga mempengaruhi prengus atau tidak. Untuk daging bahan sate harus langsung digantung, jangan sampai menyentuh tanah. Harus terjaga pula kebersihannya.

Ditambahkan, daging kambing pun tidak boleh sering terpe-gang tangan, terutama oleh banyak orang, Jika daging tersebut terkena benda kotor atau pisau yang tidak bersih, maka daging akan cepat berubah menjadi hitam.

Lain halnya untuk olahan sup, justru dagingnya harus dicuci bersih. Menu sup ini menjadi favorit para pengunjung. Supnya diberi potongan kaki kambing yang telah direbus hingga empuk, sehingga saat dimakan dagingnya dengan mudah dilepas dari tulang.

more…

Share
Category: Tips  | Leave a Comment
Author:
• Wednesday, October 20th, 2010
Pengalaman tidak mengenakkan nyeri pinggang (Low Backpain/lage rugklachten)
*yang dituliskan disini bukan resep/anjuran medis loh, resiko pembaca diluar tanggungan penulis ^^*
Sudah dua tahun terakhir ini saya mengalami nyeri pinggang, sepertinya lebih dari dua tahun, hanya saja yang kerasa mengganggu dua tahun terakhir ini, sebelumnya dicuekin saja. Sebenarnya tubuh kita punya mekanisme sendiri, rasa sakit misalnya, menjadi alarm rasa sayang bahwa ada sesuatu yang salah, tidak harus perawatan yang heboh, mungkin saja degenerasi fungsi tubuh tanda-tanda kurang olah raga, makan tidak seimbang, kurang atau kelebihan tidur, atau tanda-tanda penuaan ^_^ sebaliknya bisa saja peringatan tubuh itu menunjukkan hal-hal yang benar-benar tidak baik sedang terjadi.
Dua tahun ini nyerinya menjadi-jadi, kalau sudah begitu tidak elastis bergerak, dipake jalan sakit, dipake berdiri sakit, dipake duduk sakit, dipake berbaring juga tidak bisa elastis gerakannya. Kalau sudah begini jadi ingat anak masih kecil, masih perlu digendong2, perlu lari-lari, masak ibunya sudah KO. Kadang nyerinya datang beberapa bulan sekali, namun sejak tinggal di negara bersuhu dingin (jauh lebih dingin dari tempat kelahiran kota Batu, maupun tempat tinggal kota Bandung), maka nyeri pinggangnya semakin intensif, kadang datang tiap bulan atau tiap minggu. Ini sudah diluar kemampuan diri sendiri mengatasi, need help :(
Maka beberapa bulan lalu, untuk pertama kalinya saya manfaatkan asuransi, berkunjung ke dokter. Kalau di Belanda, berkunjung ke dokter dengan membuat janji sebelumnya (hari dan jam), mungkin ada baiknya juga ya, agar tidak ngantri lama dan terpapar virus si sakit yang lain di tempat berobat (Nosocomial Infection), tapi kalau sedang nyeri-nyerinya jadi malas membuat janji, belum tentu hari itu juga, akibatnya ya malas lagi kedokter dan ditunda-tunda. Dan kunjungan pertama adalah ke dokter umum, tidak langsung dokter spesialis. Tetapi untuk dokter kampus (TU Delft) saya ga pake bikin janji loh, langsung datang dan dilayani :D Sebelumnya dari rumah sudah saya siapkan selembar kertas berisi apa saja keluhan, kapan dirasakan, riwayat melahirkan,hal-hal yang dirasa perlu/berhubungan, khawatir melupakan hal-hal penting.
Dokter kemudian melakukan serangkain tes untuk menguji kelenturan pinggang dan panggul, mungkin untuk menentukan pula perlu tidaknya rontgen. Kesimpulan awalnya, terjadi ketidak seimbangan otot panggul dan perut, mungkin ketika hamil beban di perut membuat otot2 punggung dan pinggang tegang turut menahan beban, setelah anak lahir, otot perutnya tidak dilatih/terlatih sehingga kendor (selulit itu loch) sehingga tidak seimbang lagi dengan pinggang dan punggung, otot2nya tidak kembali ke tempat semula. Dan ini diperparah dengan profesi atau kebiasaan. Dulu sebagai orang IT kebanyakan ya di depan komputer, duduk dengan posisi sama (yang bisa saja salah) selama berjam-jam, kemudian juga bagi yang suka nyetir (mobil ataupun motor) tanpa kerasa tubuh di posisi yang sama berjam-jam. Maka tegangan demi tegangan kita bebankan kepada tubuh bagian belakang. Kira-kira beginilah struktur bagian tubuh belakang (dikutip dari mayo clinic)
“Your backbone (vertebral column) is actually a stack of more than 30 bones called vertebrae. Together they create a bony canal that surrounds and protects your spinal cord. Small nerves enter and exit the spinal cord through spaces in your vertebrae. The vertebrae are held together by muscles, tendons and ligaments. Between the vertebrae are intervertebral disks, which act as shock absorbers by preventing the vertebrae from hitting one another when you walk, run or jump. The intervertebral disks also allow your spine to twist, bend and extend. The lower back — which carries most of your weight — is the site of most back pain.”
Kalau dibaca terus, maka ada

*yang dituliskan disini bukan resep medis loh, resiko pembaca diluar tanggungan penulis ^^*

Sudah dua tahun terakhir ini saya mengalami nyeri pinggang, sepertinya lebih dari dua tahun, hanya saja yang kerasa mengganggu dua tahun terakhir ini, sebelumnya dicuekin saja. Sebenarnya tubuh kita punya mekanisme sendiri, rasa sakit misalnya, menjadi alarm rasa sayang bahwa ada sesuatu yang salah, tidak harus perawatan yang heboh, mungkin saja degenerasi fungsi tubuh tanda-tanda kurang olah raga, makan tidak seimbang, kurang atau kelebihan tidur, atau tanda-tanda penuaan ^_^ sebaliknya bisa saja peringatan tubuh itu menunjukkan hal-hal yang benar-benar tidak baik sedang terjadi.

Dua tahun ini nyerinya menjadi-jadi, sehingga tidak elastis bergerak, dipake jalan sakit, dipake berdiri sakit, dipake duduk sakit, dipake berbaring juga tidak bisa elastis gerakannya. Kalau sudah begini jadi ingat anak masih kecil, masih perlu digendong2, perlu lari-lari, masak ibunya sudah KO. Kadang nyerinya datang beberapa bulan sekali, namun sejak tinggal di negara bersuhu dingin (jauh lebih dingin dari tempat kelahiran kota Batu, maupun tempat tinggal kota Bandung), maka nyeri pinggangnya semakin intensif, kadang datang tiap bulan atau tiap minggu. Ini sudah diluar kemampuan diri sendiri mengatasi, need help :(

Maka beberapa bulan lalu, untuk pertama kalinya saya manfaatkan asuransi, berkunjung ke dokter. Kalau di Belanda, berkunjung ke dokter dengan membuat janji sebelumnya (hari dan jam), mungkin ada baiknya juga ya, agar tidak ngantri lama dan terpapar virus si sakit yang lain di tempat berobat (Nosocomial Infection), tapi kalau sedang nyeri-nyerinya jadi malas membuat janji, belum tentu hari itu juga, akibatnya ya malas lagi kedokter dan ditunda-tunda. Dan kunjungan pertama adalah ke dokter umum, tidak langsung dokter spesialis. Tetapi untuk dokter kampus (TU Delft) saya ga pake bikin janji loh, langsung datang dan dilayani :D Sebelumnya dari rumah sudah saya siapkan selembar kertas berisi apa saja keluhan, kapan dirasakan, riwayat melahirkan,hal-hal yang dirasa perlu/berhubungan, khawatir melupakan hal-hal penting. Kata dokternya andai saja pasien2 membuat catatan seperti ini (wah ya klo lagi sakit banget ya mana sempet dok :D :D:D).

more…

Share