Archive for the Category ◊ Puisi ◊

Author:
• Friday, March 10th, 2006

Pada pilihan menjadi baik, atau berbuat baik, akan dijumpai saat-saat dimana keterasingan dan kesunyian menjadi sesuatu yang lumrah untuk diarungi.
Saat harus terus melangkah ketika badai datang, berlalu, dan datang lagi.
Saat harus menahan diri dari rupa-rupa hiasan menggoda.
Saat bahkan harus berdiri sebagai orang terakhir yang mempertahankan sebuah cita-cita.

Dalam ruang-ruang pribadi kita, di ruang kerja, sosial, politis, ekonomi, dalam sebuah kehendak menjalani hidup yang lurus, akan dijumpai saat-saat sunyi.
Selaiknya pendakian gunung, kian ke puncak, kian terjal, kian lelah, kian sunyi, pun pula kian sejuk.

Sunyi, sepenggal waktu yang paling disukai oleh nurani.
Untuk sejenak mengaca diri, menghitung dan menimbang kemanfaatan dan kesiaan, penghambaan dan pengkhianatan.
Mungkin itulah sebabnya, para penggemar hingar bingar dunia, sangat senang menghabiskan malam-malam sunyinya dalam keramaian gemerlap hiburan.
Karena saat-saat sunyi adalah saat-saat penyangkalan, ketika nuraninya berteriak, memintanya kembali.

Sunyi, bukan pelarian atas tipisnya harapan akan kebaikan.
Bukan pilihan pengecut yang takut menghadapi kenyataan hidup.
Bukan pilihan pejuang yang hendak mencuci tangan dari kewajibannya sebagai pemakmur bumi, sebagai rohmatan lil ‘alamiin.
Mengarungi kesunyian adalah menapaki jalan-jalan yang sedikit dipilih orang, namun ramai dengan ruh perjuangan untuk menggapai lini vertikal tertinggi, cinta, dan ridho Ilahi.

Share
Category: Puisi, Tafakur  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Author:
• Friday, February 17th, 2006

Bayangan,
yang mengikuti, di kiri, di kanan, di belakang, atau di depan.
Keinginan,
yang terukur, yang tergambar, yang melayang, yang mengembara, yang menggantung, yang berserakan.
Garis waktu,
yang memotong-motong kesiaan angan, menggilas jenak-jenak tanpa karya, tanpa dzikir, tanpa hati.
Nafsu,
yang memburu-buru, melukis keindahan semi semu.
Tidak…tak hendak mengejar bayangan sendiri…

Dan yang lebih menakutkan adalah, berdiri, berdiam di tempat gelap,
karena disana, bahkan bayanganpun tak hendak menampakkan diri.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS.Al-Anaam:32)

Share
Category: Puisi, Tafakur  | Tags: , , ,  | Leave a Comment