Pada pilihan menjadi baik, atau berbuat baik, akan dijumpai saat-saat dimana keterasingan dan kesunyian menjadi sesuatu yang lumrah untuk diarungi.
Saat harus terus melangkah ketika badai datang, berlalu, dan datang lagi.
Saat harus menahan diri dari rupa-rupa hiasan menggoda.
Saat bahkan harus berdiri sebagai orang terakhir yang mempertahankan sebuah cita-cita.
Dalam ruang-ruang pribadi kita, di ruang kerja, sosial, politis, ekonomi, dalam sebuah kehendak menjalani hidup yang lurus, akan dijumpai saat-saat sunyi.
Selaiknya pendakian gunung, kian ke puncak, kian terjal, kian lelah, kian sunyi, pun pula kian sejuk.
Sunyi, sepenggal waktu yang paling disukai oleh nurani.
Untuk sejenak mengaca diri, menghitung dan menimbang kemanfaatan dan kesiaan, penghambaan dan pengkhianatan.
Mungkin itulah sebabnya, para penggemar hingar bingar dunia, sangat senang menghabiskan malam-malam sunyinya dalam keramaian gemerlap hiburan.
Karena saat-saat sunyi adalah saat-saat penyangkalan, ketika nuraninya berteriak, memintanya kembali.
Sunyi, bukan pelarian atas tipisnya harapan akan kebaikan.
Bukan pilihan pengecut yang takut menghadapi kenyataan hidup.
Bukan pilihan pejuang yang hendak mencuci tangan dari kewajibannya sebagai pemakmur bumi, sebagai rohmatan lil ‘alamiin.
Mengarungi kesunyian adalah menapaki jalan-jalan yang sedikit dipilih orang, namun ramai dengan ruh perjuangan untuk menggapai lini vertikal tertinggi, cinta, dan ridho Ilahi.

Recent Comments