• Tuesday, May 10th, 2011
Pagi ini jam 5 waktu CET atau jam 10 waktu Jakarta, saya sudah ada agenda mewawancara salah satu pelaku industri sawit untuk kepentingan tesis, bapak ini juga acap kita lihat di dialog2 metrotv. Pertanyaan disiapkan dari malamnya, dibantu oleh abah. Abah juga saya minta bantuan untuk mem-backup wawancara dg tulisan tangan. Karena ini wawancara telepon, saya menggunakan VOIP dari notebook sehingga tarif telepon ke Indonesia lebih murah. Untuk merekam, saya pake soundcloud.com (merekam secara onlen), kemudian satu HP ericson, dan satu HP android HTC.
Konten wawancara memuaskan, dalam arti memenuhi kebutuhan informasi untuk analisis tesis saya. Yang kurang memuaskan adalah performansi saya sebagai pewawancara. Terlalu formal, kurang bisa rilex, terlalu to the point, ga punya intro yang bagus, rawan membuat tidak nyaman narasumber, pokokna mah ga seperti Najwa Shihab hehehh. Alhamdulillah ada abah yang juga melibatkan diri dalam wawancara. Keliatannya abah lebih rileks dan kalem.
Ini seperti mengkonfirmasi asumsi saya tentang diri sendiri: kurang fasih kalau berbicara
Turunan dari bapak (kok bapak jadi dibawa2). Tetapi kalau bicara dalam konteks mengajar masih lumayan, karena sudah prepare materi sebelumnya. Tapi kalau ngomong live itu loh…. kurang elok lah pokokna. Mungkin itu sebab saya lebih suka menulis, untuk meyiasati kekurangan diri hahahah….bisa dipikir berulang2 sebelum ‘dikeluarkan’, kalau ngomong harus orang yang cerdas mengendalikan lisannya, sekali keluar ga bisa ditarik lagi euy.
Tapi mungkin keterampilan berbicara harus juga diasah, masak klo mau berpendapat menyodorkan kertas? ga lucu toh…. “Rabbi shrahli sadri. Wa ya sirli amri. Wahlul uqqudatam mil lisani. Yafkahu qauli”
***Najwa Shihab dan Kania Sutisnawinta bagus cara mewawancara, ternyata itu tidak mudah, butuh latihan kayaknya, dan tau ilmunya.
Masih ada beberapa episode wawancara, there are still rooms for improvement. Mungkin agar wawancaranya lebih baik:
- mempersiapkan bahan wawancara, fokus dg apa yg ingin digali, menguasai profil narasumber
- menempatkan yang diwawancara sebagai narasumber, berarti kita ingin menggali lebih banyak informasi dari narasumber, bukan kita mendikte narasumber berdasarkan informasi yang kita punya
- menempatkan yang diwawancara sebagai narasumber, bukan sebagai terdakwa di pengadilan yang dicecar pertanyaan oleh pengacara, sehingga narasumber dapat mengelaborasi apa yang ingin disampaikannya
- rileks dan tidak terlalu formal. Terlalu formal misalnya letterlijk dari pertanyaan yang kita persiapkan di kertas. Mempunyai introduksi yang baik.
Alhmd hari ini dua stakeholders dapat diwawancara, transkrip rekaman sudah diketik ulang. Untuk meneruskan menulis dokumen tesis lagi masih perlu mengumpulkan energi, performansi menulis mulai menurun setelah bulan lalu memforsir habis, adeknya mba nana dah makin besar di perut, skr jadi ngantukan.com, pengennya tidur aza….makanya terpaksa dipanasi dengan menulis di blog. Mudah2an kalau ibunya sabar menahan tempaan, adeknya mba nana juga kan menjadi anak yang sabar & tekun.
Recent Comments