Archive for ◊ 2011 ◊

Author:
• Monday, October 31st, 2011

Berinteraksi dengan anak muda sungguh menyenangkan, meski saya juga masih muda loh heheheh… Mereka darah2 segar yang akan meneruskan perjuangan kita, bibit2 unggul untuk dipupuk, disirami, disiangi dari hama, sehingga siap menggantikan generasi tua dengan lebih baik.

Akhir-akhir ini saya sering mengisi taklim kaum muda, pelajar SMP, SMA.  Saya merasa perlu untuk mengisi semangat mereka dengan shirah nabawi, shahabat/shahabiah, dan memberikan pandangan2 yang pernah saya lihat tentang dunia.  Menitipkan kepada mereka untuk tidak menyia-nyiakan masa muda, kalian berhak sukses semuda mungkin!  siap beramal semuda mungkin! Jangan kelamaan luntang lantung tidak jelas.  Sebab usia tidak bisa dilawan, jangan sampai ada penyesalan di masa tua.  Sayapun mentaubati beberapa waktu masa muda saya yang lalai.

 

Share
Category: Tafakur  | Leave a Comment
Author:
• Monday, October 31st, 2011

Rumah ibu saya adalah rumah singgah bagi siapa saja sodara2nya.  Kakak2 ibu setiap hari datang ke rumah, pagi, siang, sore, malam.  Sekedar melongok, say hai, ngobrol sebentar, ikut makan, sekedar lewat, atau duduk di halaman.  Bisa dibilang, rumah ibu ini adalah tempat main kakak2 ibu, apalagi sekarang sudah pada sepuh2.  Alhamdulillah kalau itu bisa menambah keberkahan bagi rumah kami.

Hanya saja, masuk keluar tanpa permisi buka pintu, kadang membuat saya kalang kabut kalau sedang tidak mengenakan jilbab, sebab di dalam rumah sendiri.  Kalau pakaian memang pakai yang panjang2 sehingga aman.  Hmmmhh… mungkin memang pengetahuan mereka tentang hijab belum sempurna, harus lebih memaklumi dan siap siaga dengan jilbab dimana2, atau terus2an memakai jilbab.

Share
Category: Tafakur  | Leave a Comment
Author:
• Monday, October 31st, 2011

Kadangkala, kalau sudah habis alasan dicari untuk bisa berlapang dada, maka kembali ke rukun iman yang ke-enam bisa menjadi solusinya.  Terima sebagai takdir, membuktikan keimanan. Dan jika tidak merasakan yang manisnya di dunia, semoga dengan mengimani takdir itu akan disediakan balasan terbaik di akhirat. Amiinn.

Share
Category: Tafakur  | Leave a Comment
Author:
• Sunday, October 30th, 2011

Beberapa pekan lalu gempa mengguncang Bali, efek getarannya terasa hingga tempat kami di Batu, Jawa Timur.  Siang itu saya, ibu, dan anak2 berada di rumah.  Kemudian bapak datang mengabarkan terjadi getaran gempa, orang2 di jalan juga teriak ada gempa dan keluar rumah.

Tetapi kami yang di rumah tidak merasakan getaran apa2, saya juga menanyakan ke ibu, jawabnya juga tidak merasakan apa2.  Alhamdulillah, saya berpikir positif dan diliputi kebahagiaan, Allah menjaga rumah ini, berarti Allah melihat kami.  Siapa yang tidak bahagia jika Allah menghadapkan wajah-Nya (sepertinya saya ge er… tapi biarlah saya merasakan kebahagiaan ini).  Segala kebesaran dan puji hanya milik Allah.

Share
Category: Tafakur  | Leave a Comment
Author:
• Saturday, October 29th, 2011

Hal yang paling menyenangkan sekaligus membuat saya malu ketika di rumah orangtua saya adalah tentang ketaatan beribadah ibu saya.  Alhamdulillah, saya senang sekali bahwa di masa senjanya, ibu masih diberi kesehatan yang prima, dengan jadwal senam rutin seminggu dua-tiga kali (salut dech), dan berbagai aktifitas dakwahnya, sehingga jadwal hariaannya apik tertata.  Sebelum subuh sudah diatas sajadahnya untuk tahajud dan wirid, kemudian shalat fajar dan subuh di masjid, kadang di rumah, tak lupa doa2 panjang seusai shalat.  Kemudian belanja ke warung, masak, beberes, hari masih sangat pagi belum lagi jam 7, makanan sudah tersedia dan rumah sudah bersih.

Di tempat kami, matahari sudah terang benderang sejak jam 6 pagi, sehingga ibu bisa melaksanakan shalat dhuha jam 8 pagi di dahului dengan membaca surat Al-Waqiah setiap hari, kemudian pergi ke sawah.  Siang sudah dhuhur dengan tak meninggalkan rawatib.  Sesudah asar adalah jadwalnya ‘keluar’.  Ada berbagai pengajian baik tingkat dusun, desa, maupun luar desa.  Ada jadwal senam mulai dari bale desa, bale kota, sampe kadang2 tour ke luar kota atau luar provinsi, hoalahh ibu2 sekarang langsing2 dan prima kesehatannya =)

Maghrib dan Isya diseringkan ke masjid, kalau sedang repot, sholat di rumah. Tetap selalu dengan wirid dan doa2 panjangnya.  Hampir tak dilewatkannya puasa senin-kemis, ayyamul bidh, 1-9 dzulhijjah, Subhanallah.. jadi iriiiii sekaliii. Apalagi aktifitas seperti itu terlihat ‘ringan’ bagi ibu sebab sudah menjadi kebiasaannya.  Apalagi jika anak2nya ada hajat, mau ujian, ada kesulitan, maka yang di calling2 memang ibu, itu kebiasaan kami anak2nya sedari kecil. Maka ibu akan berlama2 diatas sajadahnya, memanjangkan atau menambah shalatnya, dan menyengajakan puasa, untuk menjadi jalan pertolongan Allah bagi anak2nya.

Saya seharusnya malu, dari segi pendidikan, ilmu pengetahuan agama, maka saya jauh lebih banyak dari ibu.  Tetapi sudahkan saya benar2 takut kepada Allah?  sudahkan saya benar2 menghamba pada-Nya?  Dan satu hal lagi, saya harus mencontoh ibu untuk menyertai langkah anak2nya dengan banyak2 beribadah kepada Allah, menambah sholat, memperpanjang wirid & doa, memperbanyak puasa.  Seperti kisah seorang sahabat nabi yang menambah lagi shalatnya manakala teringat anak2nya.

Share
Category: Tafakur  | Leave a Comment
Author:
• Tuesday, October 25th, 2011

Mba nana, penapak jejak Mutiara paling indah di Madinah (Rasulullah saw), gadis kecil ibu ini orangnya hati-hati, cocok jadi ilmuwan (amiiiinnnn), kalau enggak, curigaan cocok jadi detektif :D   Tidak mau mencoba sesuatu yang dia tidak benar-benar yakin.  Tidak suka tampil di depan umum dan cuek.  Suka bernyanyi dan menari. Cepat kalau menirukan lagu anak-anak, gerakan2 senam, dan tarian2.  Tapi tersiksa banget kalau disuruh duduk lama mewarnai.  Baru dua kali datang ke les menggambar sudah ibu berhentikan.  Teman2nya sunyi senyap menggambar, dia ngoceh sendiri dan terlihat bosan.

Manjanya ke ibu itu loh… masyaAllah… baru berhenti bilang íbu mau enen dulu’ sejak adeknya lahir. Pipis, eek, makan, harus sama ibu, mau tidur harus dikelonin & baca cerita, bangun tidur panggil2 ibu, belajar harus sama ibu, sedikit2 dicek ibu ada atau tidak.  Ya wis gapapa, sepanjang ibu mampu, ibu akan melayani mba nana, cuman kalau ibu ada urusan yang lebih urgen, ya sori dori mori, mba nana harus ditata keinginannya.

Suaranya merdu, bicaranya perlahan dengan kosakata yang jelas, menggunakan bahasa Indonesia yang agak EYD.  Sebagai anak di usia 4 tahunan, maka dia tergolong culun, polos pisan, dibanding anak-anak Indonesia seusianya yang terlihat lebih matang.  Teman-temannya sudah bisa memainkan gunting dengan cekatan, menulis dengan rapi (ini diajarin sejak usia berapa ya?).

Ibu ga sampai hati melepas dia di ‘kehidupan sebenarnya’, anakku culun banget :(  Kalau lagi diem, suka ketawa-ketawa sendiri, mengingat hal-hal lucu ditayangan yang dia tonton.  Kalau ibu tanya, kenapa ketawa mba nana?  itu gogok ngepel lantai di shaun the sheep.  Kalau dulu suka ketawa2 inget adegan tupai dan pluto di mickey mouse. Anak yang aneh :|

Kalau teman-temannya berebutan salam ke bu guru, dia akan tersrundul2 sampai paling belakang, gitu ya malah ketawa2 kegirangan, dikira temen2nya main2 kali ya…  Atau kalau teman2nya berebut mengambil balok2 ke depan kelas, dia dengan santenya menunggu paling belakang.  Waduh nak, hidup di Indonesia itu keras, penuh kompetisi!  Ya wis lah, pokoknya mba nana selamet dunia akherat, ngalahan juga gapapa, mudah2an bisa jadi akhlak mulia.

Aa Bagdja, hamba Ar-Rahman (Ibadurrahman) yang salah satu karakternya berjalan di muka bumi dengan rendah hati (QS.Al Furqan:63-68).  Baru tiga bulan lebih sedikit usianya, anaknya kalem lem.. Subhanallah, prihatin tidak menyusahkan ibu.  Dibawa kuliah, dakwah, ngurus ini itu.  Dua minggu kelahirannya ibu dalam stressing tinggi menyelesaikan tesis.  Dan Allah meringankan ibu dengan Aa yang tidak rewel, tenang, anteng.  Usia dua bulan dibawa terbang lintas benua, anteng tidak menyusahkan ibu. Sampai sekarang, anteng dan suka senyam senyum.  Alhamdulillah.. semoga ketenanganmu ini adalah bekal menjadi seorang álim (yang berilmu).

Allah… perjalanan ini masih panjang untuk mengantarkan titipan-Mu  menjadi hamba2-Mu yang taat beribadah, berilmu, dan siap diwakafkan untuk kebangkitan ummat.  Berilah umur dan kesempatan untuk mengasuh anak2, lindungilah keluarga ini ya Allah. Amiinnn

Share
Category: Parenting  | Leave a Comment
Author:
• Tuesday, October 25th, 2011

If mommy’s happy, everyone’s happy…. pepatah Inggris itu memang ada benarnya.  Suasana hati ibunda akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga yang diurusnya.  Maka suami-suami buatlah para mommy bahagia :D .

Namun lebih penting dari itu, ternyata karakter anak dipengaruhi juga oleh orang terdekatnya, yang paling sering berinteraksi dengannya.  Maka biasanya para ibulah yang paling mewarnai karakter anak-anak di masa pertumbuhannya.  Apalagi anak-anak ibu manja sekali ke ibunya, maka memang di hari-hari ini, ibulah patron, center of tenet.

Ibu mendapati sifat mba nana, atau bagaimana mba nana merespon sesuatu memang ada pengaruh faktor ibu, makanya suka merasa bersalah kalau ada hal-hal yang dilakukan mba nana yang tidak baik misalnya cara dia marah.

Maka dari itulah, ibu tidak henti-henti meminta tolong kepada Allah agar selalu dibimbing dalam mengasuh anak-anak, menghilangkan jahiliyah2 dalam diri ibu, sehingga bisa menjadi contoh bagi anak-anak.  Ibu juga harus sering evaluasi diri, belajar cara mengasuh anak, dan berikrar ulang untuk menjadi orangtua yang lebih baik setiap harinya.

Anak-anakku, maafkanlah kelemahan-kelemahan ibumu.

Share
Category: Parenting  | Leave a Comment
Author:
• Friday, September 02nd, 2011

after two years… what a journey it has been…

Share
Category: Studi  | Leave a Comment
Author:
• Tuesday, August 09th, 2011

dari link video dibawah ini, untuk saudara-saudariku =)

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Ketika…..
Ketika kerjamu tidak dihargai
maka saat itu kau sedang belajar tentang ketulusan
Ketika usahamu dinilai tidak penting
maka saat itu kau sedang belajar tentang keikhlasan
Ketika hatimu terluka sangat dalam
maka saat itu kau sedang belajar tentang memaafkan
Ketika kau harus lelah dan kecewa
maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan
Ketika kau merasa sepi dan sendiri
maka saat itu kau sedang belajar tentang ketangguhan
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
maka saat itu kau sedang belajar tentang kemurahan hati

Tetap semangat
Tetap Sabar
Tetap Tersenyum
Terus Belajar
Terus Bekerja
Bekerja untuk Indonesia

Karena kau sedang menimba ilmu di universitas kehidupan
Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena kebetulan
Dia punya maksud untuk hidupmu
Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Maha Besar

We make our dreams will come true
and let our hope going through
there’s something still left behind us
let our dream we will build great future
let us always pray to Allah
let us fight and never give up
someday we can change the whole world
from this moment we will build great future
hand in hand together

Share
Category: Langkah  | Leave a Comment
Author:
• Monday, August 08th, 2011

Barangkali migren ini penyakit sejuta umat.  Saya juga termasuk salah satunya.  Entah sejak kapan tepatnya migren ini hinggap di kepala saya.  Sudah sejak sekolah dasar saya mengalami sakit kepala sebelah ini.  Penyebab utamanya adalah kalau kepanasan intensif, maka sebelah kepala kadang bagian kiri atau kanan akan nyut-nyutan.  Kalau sudah begini cara terbaik adalah tidur, atau minum obat, yang sayangnya jaman dahulu ga ngerti jadi minumnya proc*ld yang beken banget sebagai iklan sandiwara radio tutur tinular heheheh.

Bertambah usia, pencetus migren saya ini bertambah lagi, yaitu kalau lagi tertekan, maka muncullah migren ini, jadi migren ini bisa jadi indikator setres juga, kalau misalnya saya tidak kepanasan tapi migren, ada-ada saja =)  Tetapi setelah dewasa saya tahu, bahwa rasa sakit migren bisa ditekan dengan paracetamol saja, ga perlu zat aditif lain dalam obatnya.

Karena sudah tinggal di negara subtropis, maka Alhamdulillah migren saya sudah hampir jaraaang sekali muncul.  Tapi muncul2 juga, berarti ada tanda ke-setres-an.  Ga enaknya, migren ini kambuh kalau tiba-tiba berseliweran peristiwa2 beberapa tahun lalu yang cukup menggoreskan luka di hati saya (jiaahhh sinetron..sinetron…), padahal itu peristiwanya di Indonesia dan saya di Belanda, berjarak waktu (dulu dan sekarang) dan tempat (Indonesia-Belanda).  Astagfirullahaladhiimm….kalau begini ini kerjaannya syaithonnirrojiimm…

Saya sudah mencoba berbagai cara agar mengikhlaskan peristiwa itu, dari membaca2 artikel2 psikolog, petunjuk agama tentang memaafkan, beristighfar kepada Allah, hingga memohon2 agar Allah mengangkat/menutup luka di hati ini agar saya bisa melangkah dengan ringan, ga migren2 lagi begitu…  Saya juga sempat meng-hide all makhluk2 Allah itu di facebook (norak ya), tapi akhirnya saya un-hide lagi sebagai shock therapy kepada diri sendiri agar saya mampu menghadapi kenyataan dan pada akhirnya hati menjadi tawar hingga ikhlas, ridho.

Saya juga heran, dari banyak peristiwa dalam hidup ini yang saya banyak lupanya, kenapa peristiwa beberapa tahun lalu itu yang kalau dihembus2kan syaitan bisa langsung memicu kepala pening, mungkin karena yang tertohok adalah izzah yang selalu saya jaga, kemulyaan yang saya bangun (harga diri gitchu? memang harganya berapa?). Bisa jadi yang melakukan itu santai saja, tidak menyadari efeknya kepada saya, tapi kenapa saya yang pening (pusing betulan sampe migren), aduhh ga fair ini, saya yang rugi.

Nah, karena sekarang ini bulan Ramadhan, saya benar-benar memohon kepada Allah agar diberikan hati yang lapang dan mudah memaafkan.  Ternyata ini permintaan yang sangat penting dan sangat mendesak, agar langkah2 dalam hidup menjadi ringan dan PRODUKTIF.

ini ayat yang menampar ibu, QS.An-Nur (24) ayat 22:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ini teguran Allah kepada Abu Bakar ra. ketika beliau sakit hati sekali saat terjadi fitnah besar kepada Aisyah, dan abu bakar bersumpah untuk tidak memberikan lagi bantuan (tidak memaafkan) kepada orang-orang yang telah memfitnah putrinya (berselingkuh) yang sekaligus istri Rasulullah saw.

Share
Category: Tafakur  | Tags: ,  | Leave a Comment