Archive for ◊ February, 2011 ◊

Author:
• Sunday, February 27th, 2011

Pencatatan dan monitoring anak dilakukan oleh gementee/kecamatan. Yang jelas bagi pendatang, anak harus terdaftar di gementee/kecamatan, tidak hanya di imigrasi/IND,  untuk mendapatkan pelayanan tumbuh kembang.  Penanganan tumbuh kembang bayi dan balita (serta lebih jauh anak2 dan remaja) dibawah organisasi pemerintah yang beroperasi di tingkat kecamatan yang bernama CJG (Centrum voor Jeugd en Gezin) atau ´Centre for Youth and Family´.  Mungkin kalau di Ina karena skala penduduk yang besar bisa ditaruh di tingkat Posyandu.

Sesuai dengan usia bayi/balita, maka orang tua akan dikirimi surat oleh kecamatan berupa undangan untuk datang ke CJG baik karena sudah jadwalnya imunisasi ataupun untuk monitor tumbuh kembang.  Sehingga memang ibu tidak harus pusing mikirin kapan waktunya imunisasi, tidak harus mengeluarkan biaya imunisasi ke dokter (seingat saya di Ina harga imuniasasi di bidan dan dokter beda ya…). Kalau di Ina soal imunisasi ini juga mazhab2an, ada yang berkeyakinan tidak perlu imunisasi, atau sebaliknya, terserah saja. Kalau di sini kayaknya wajib, kalau orangtua tidak merespon surat2 panggilan untuk imunisasi/monitoring anak, kabarnya akan ada sanksi karena melalaikan kewajiban pengasuhan anak (entah saya tidak begitu tahu).

Undangan ke CJG bersifat individu, maksudnya orang tua satu dan lainnya beda-beda jadwal (bukan massal), sesuai usia anak dan prosedur monitoring apa yang harus dijalankan pemerintah.  Misalnya, panggilan ´Baby clinic´ di usia bayi 4 minggu, 3 bln, 6 bln, 7,5 bln, 9 bln, 14 bln, 18 bln, 2 tahun, 3 tahun, terakhir 3 tahun 9 bulan. Panggilan ini disesuaikan dengan monitoring milestone tumbuh kembang dan jadwal imunisasi. Orang tua diberikan buku ´growth book´ yang berisi catatan kesehatan anak dan juga milestone tumbuh kembang anak serta tips2 safety. Lumayan menolong bagi ibu2 dalam mengasuh buah hatinya. Selain standar pengukuran berat dan tinggi, riwayat sakit, orang tua juga ditanya apakah anak mengalami gangguan tidur, kendala makan, bicara, tantrum/ngamuk, biasanya petugas CJG memberi saran2.  Petugas CJG juga akan memonitor perkembangan motorik halus dan kasar anak.

Keseluruhan layanan tersebut menurut saya bukan sesuatu yang sangat canggih atau wouw untuk bisa diterapkan di Posyandu Indonesia, sangat mungkin, dengan dikoordinasi oleh institusi yang punya kapasitas dan kuat.  Posyandu ini saya pikir penting sekali, ini solusi komunal, bersama2 oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Asal yang ngatur (pemerentahnya) bener-bener.

Demikianlah kira2, saya tidak tahu dengan pemerintahan baru Belanda dan kabinetnya yang kelihatan kanan (lebih liberal dibanding tradisi Belanda yang sosialis/welfare state), pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan, akan seperti apa  masa depan Belanda ini.

Saya tetap optimis insyaAllah negara kita bisa maju dan lebih baik. Kalau Belanda (atau negara ´maju´ di Eropa) bisa seperti sekarang ini, mereka juga telah melewati śocial exercise´ yang berdarah-darah selama ratusan tahun. Jadi kalau negara kita sedang bergejolak, saya pikir itu juga bagian dari proses ´social exercise´, segala segi sedang ditata, untuk menemukan bentuk masyarakat Indonesia yang lebih adil sejahtera (yang wajahnya akan dibentuk oleh orang Indoensia sendiri). Cocok dengan syair H.Mutahar di Dirgahayu Indonesiaku (kado 50 tahun Indonesia merdeka), bahwa kita ini sedang ´ditempa Tuhan’ agar jadi bijak bestari.

Share
Author:
• Sunday, February 27th, 2011

Lagi-lagi asuransi penting sekali di Belanda, kalau tidak bisa setres dengan biaya ini itu. Periksa manfaat asuransi yang kita daftarkan disini menanggung biaya hamil dan melahirkan atau tidak. Kalau asuransi student/expatriate yang saya ikuti,  asuransi menanggung biaya kehamilan dan persalinan apabila diketahui hamil sudah terdaftar asuransi, bukan baru daftar asuransi setelah kehamilan.

Sistem untuk kehamilan disini, setelah mengetahui dari test pack (biasanya minggu ke-5 atau 6), maka segera cari praktek midwifes/verloskundigen, di Indonesia disebut bidan.  Disini biasanya grup beberapa bidan dalam satu lembaga, cari terdekat dari rumah (biar ga sulit transportasi/capek). Di Belanda tidak bisa hamil langsung pergi ke dokter kandungan (entah kenapa?), kecuali untuk kasus khusus, entah mungkin kehamilan sebelumnya bermasalah, atau masalah2 medis lainnya, biasanya langsung ditangani oleh dokter spesialis. Prosedurnya harus ke midwife dulu untuk membuat janji pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini membawa dokumen asuransi, pas foto, dan urin. Pertemuan pertama akan berlangsung cukup lama sekitar satu jam, sebab bidan akan mengisi ke database komputer berbagai pertanyaan standar yang sudah disiapkan/diprosedurkan oleh pemerintah. Mulai data diri, daftar riwayat penyakit diri dan saudara terdekat (mungkin hubungannya dengan faktor genetis), aspek psikologis (apakah korban kekerasan/korban perang), dan pertanyaan aneh2 yg menyeramkan (riwayat h*mo seksual, inc*st, dsj), apakah pernah melakukan terapi psikologi, kriminalitas, dst. Sebab mereka adalah negara multikultur, orang datang dari macem2 negara karena alasan macem2, dan melahirkan adalah proses klinis dan psikologi, jadi harus dipersiapkan dulu katanya.

Apabila segalanya normal hingga menjelang persalinan, maka melahirkan ditolong bidan tersebut, disarankan melahirkan di rumah masing2 (aneh ya, justru melahirkan di rumah umum di Belanda). Boleh juga melahirkan di rumah sakit, untuk persalinan normal tetap oleh bidan. Tetapi menurut beberapa ibu2, kalau normal mending di rumah saja, sebab kalau di rumah sakit, beberapa jam sesudah melahirkan sudah diusir/disuruh pulang (alasan efisiensi alias pelit tea). Tetapi apabila ada indikasi tidak normal, atau karena sebab tertentu dan harus dalam pengawasan dokter maka bidan akan merujuk ke rumah sakit bagian obgin. Untuk kehamilan normal dengan riwayat melahirkan sebelumnya operasi, maka baru pada minggu ke 34 dialihkan ke dokter obgin dan harus melahirkan di rumah sakit.  Setiap kunjungan ke bidan ditanggung asuransi.

Setelah kunjungan pertama, ibu hamil diharuskan melakukan tes darah, tinggal membawa rekomendasi bidan ke rumah sakit. Free of charge (ditanggung asuransi).  Tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan Hb, trombosit dan sejenisnya, kadar vitamin D (karena di negara semacam ini rawan defisiensi), kadar gula, infeksi hepatitis, infeksi HIV.

Pada minggu ke-20 (5 bulan) ibu hamil diminta melakukan USG (yang lebih detail dari USG di tempat bidan). Biasanya ke lembaga pemeriksaan yang satu jaringan dengan midwife kita.  Tujuan utama bukan untuk mengetahui gender (untuk gender orangtua ditanya mau tahu/tidak), tetapi tujuannya untuk melihat fungsi jantung, paru, organ perut, tangan-kaki, kepala. Calon orangtua harus menandatangani dokumen bahwa orangtua paham pemeriksaan ini tidak 100% akurat (takut dituntut mereun..).  Biayanya sekitar 150 ero/ 1,8 juta, tapi umumnya ditanggung asuransi.  Kalau ada indikasi abnormal, orangtua ditawari untuk melakukan riset lebih lanjut (yang biasanya tidak dicover asuransi), keputusan aborsi (yang disini legal..syeremmm) hanya boleh sampai usia janin 24 bulan.

Keluarga ibu hamil diharuskan menghubungi/mendaftar untuk Kraamzorg (maternity care), yaitu ṕerawatan’ ibu hamil setelah melahirkan oleh petugas Kraamzorg (perawat/bidan). Petugas ini akan visit ke rumah selama 3 jam dalam sehari selama 8 hari untuk mengajari ibu untuk memandikan bayi dan sejenisnya, serta melakukan monitoring ibu hamil pasca melahirkan (pendarahan atau tidak dan sejenisnya). Biaya petugas ini sekitar 125 euro/hari atau sekitar 1,5 jt/hari (makanya berabe kalau ga punya asuransi).
Sewaktu melahirkan anak pertama di desa (Kota Batu), saya juga ada petugas seperti Kraamzorg ini tapi namanya dukun bayi he..he..(tapi bersertifikat loh :D ), sepulang dari rumah sakit, ibu ini akan datang ke rumah pagi dan sore untuk merawat mba nana (mandiin, pijit, dan sejenisnya) sehingga darinya juga bisa belajar macam2, biasanya selama 40 hari atau terserah yang meminta. Jauh lebih murah dibanding biaya Kraamzorg di Belanda. Canggih kan, di desa tapi sistemnya kayak di Belanda :D
Yang rada bikin repot, dari awal-awal midwife sudah mengirim surat barang standar yang harus disiapkan di rumah, baik untuk melahirkan maupun untuk petugas Kraamzorg. Misalnya, bed tempat tidur harus setinggi 70 cm (biar bidannya ga sakit pinggang katanya), handuk2, lap, alkohol, tempat mengganti popok bayi, tempat menaruh bak mandi bayi dan tetek bengeknya.

Share
Category: Hidup di Belanda  | Tags: , ,  | 2 Comments
Author:
• Sunday, February 27th, 2011

Sanitasi dan lingkungan yang baik lebih memperkecil kemungkinan mudah terserang penyakit, daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah pola makan/asupan yang baik. Tetapi bagaimana tata laksana untuk orang sakit di Belanda?

Asuransi adalah wajib, pendatang yang tidak memiliki asuransi dianggap ilegal, atau kalau tidak memperpanjang asuransi bisa berabe kalau ada apa2. Sebab serba mahal layanan disini. Enaknya dengan asuransi pula, pembayaran dokter juga bisa diatur terpusat, maka tidak ada perang tarif dokter, karena dokter digaji pemerintah (mungkin sudah cukup layak) dan mungkin pula telah ada rasio jumlah dokter dan pasien berdasarkan kepadatan populasi.  Pengalaman teman yang terdiagnosa kanker stadium lanjut dan dikemo mengatakan, untung saja kankernya disini ada asuransi, kalau di Ina mungkin harus jual rumah dan sawah. Teman saya yang kanker ini, sekarang dokter sudah tidak mau lagi menembak/menghancurkan sel kankernya, sudah maksimal selnya dibunuh. Jadi meski sekarang ada indikasi sel kanker tumbuh lagi, tidak bisa lagi dikemo, dan melakukan pengobatan tradisional plus menjaga pola makan (dia tidak makan daging dan banyak makan jus buah/detoks), kumaha deui ceunah.

Lebih baik jika telah mempunyai asuransi langsung mencari praktik dokter (huisartpraktijk ) terdekat dari rumah dan mendaftar kesana, apabila sudah penuh jumlah pasiennya biasanya dia tidak mau menerima dan menyaranakan untuk mencari praktek dokter umum lain. Biasanya kalau  mendaftarkan anak ke TK/sekolah salah satu yang harus diisi adalah siapakah dokternya anak (maksudnya anak terdaftar di praktek dokter umum mana), atau kalau beli obat di apotik ditanya nama dokternya. Karena saya di Indonesia tidak pernah seperti ini, maka sejak datang anteng2 saja ga daftar ke dokter mana2 juga, ini tidak baik katanya.

Setiap sakit (apapun) tata laksananya adalah ke dokter umum dulu, jangan coba2 langsung ke rumah sakit/nyari dokter spesialis, alamat tidak akan dilayani. Umumnya harus bikin janji dulu, kalau memang sakit banget bisa telepon gawat darurat atau dokter yang diminta datang ke rumah, tapi biayanya tentu lebih mahal :D
Dokter umum inilah yang akan menyarankan tindakan lebih lanjut. Apakah istirahat saja (biasanya ini saran umum kalau batuk pilek demam), apakah disuruh membeli obat di apotik, atau disuruh check up, atau di rujuk ke dokter spesialis, atau ke tempat terapi. Pengalaman yang pernah saya punya adalah lage rugpijn (low backpain/sakit pinggang bagian bawah), tata laksananya harus ke dokter umum dulu, dia kemudian memberikan surat rekomendasi untuk mendatangi terapis yang paling dekat jangkauan dari rumah. Terapis ini harus teregistrasi dan bisa dilacak pihak asuransi. Surat rekomendasi ini juga saya perlukan untuk dikirim ke pihak asuransi, karena mereka yang akan membayar biaya terapi tiap minggunya sekitar 30 ero (360 ribuan), kalau dipikir2 terapinya ´cuman´ dicontohin senam2 ringan untuk memperkuat otot pinggang, panggul, kaki. Profesi terapis menghasilkan juga ya disini. Oh iya, akupuntur telah diterima luas di kedokteran Barat, meski mahzabnya beda, sudah bisa masuk list asuransi.

Karena biasanya sakit demam batpil itu2 juga tata laksananya, saya jadi terpaksa malas sering2 visit dokter, paling disuruh banyak minum, banyak tidur, klo perlu minum paracetamol. Sepertinya orang-orang sudah tahu sama tahu tata laksana ini. Efek baiknya, lebih tenang ataukah rasional? ketika sakit (kok bisa ya?), masih mau bersabar menunggu dulu perkembangan.
Negatifnya, dengan sistem maka harus aware juga jika memang benar2 kesakitan, kata orang-orang kadang harus ngotot dan rewel, bahwa kondisi sedang gawat. Misalnya ada kasus dokter ḿenyepelekan’ seorang mahasiswa yang demam dan sakit perut, disuruh balik pulang lagi pulang lagi, akhirnya gawat darurat usus buntunya harus segera dioperasi, itu ketahuan setelah dia ngotot masuk UGD karena nyeri yang tidak tertahan.  Atau anak teman demam terus disuruh balik pulang lagi pulang lagi, setelah rewel dan memaksa akhirnya di rumah sakit ketahuan infeksi saluran kencing. Jadi memang mau tidak mau kita harus pandai mengukur kekuatan/daya tahan diri.

Obat? farmacist di apotheek biasanya sudah tahu mana obat bebas mana obat harus dengan rekomendasi ataupun resep. Dan mereka galak/ketat soal ini, padahal kalau menurut saya yang di Indonesia dulu bisa beli bebas, kok disini ga bisa. Apalagi obat untuk anak mereka lebih ketat, mungkin karena prosedurnya begitu, atau mereka juga takut dituntut pasien kalau terjadi apa2. Biasanya yang jamak tersedia di rumah2 adalah paracetamol dewasa, paracetamol anak, vitamin D tetes untuk anak sampai usia 4 tahun (kasian ya…jarang terkena matahari), dan kotak P3K. Antibiotik saya belum pernah dikasih resep ini baik untuk saya maupun anak, antibiotik ada pula gunanya bukan? tapi bukan untuk virus katanya.

Jika harus operasi atau opname di rumah sakit, lebih tenang soal biaya karena ada asuransi tea. Jadi ingat waktu opname DB di Bandung dulu, alih2 mengkhawatirkan sakitnya, lebih setres ini bakal habis berapa karena belum punya asuransi hihihihi.
Tapi soal makanan teteup botterham met kaas (roti dan keju), sup instan, wah engga (niat) banget deh. Cerita teman, kamar juga kadang campur laki-perempuan, yang tentunya tidak mengenakkan buat orang Timur. Dan kayaknya tidak umum kelas 1, VIP, VVIP. Biasanya digolongkan berdasarkan penyakit (di Indonesia juga begini bukan?), penempatan tergantung ketersediaan kamar. Dan yang ga enaknya, disini efisien sekali (atau kata saya mah pelit :D ), kalau bisa orang segera pulang dari rumah sakit untuk menekan biaya yang harus asuransi/pemerintah keluarkan, tenaga medis dan perawat memang dihargai mahal. Jadi kadang masih lemes gitu ya disuruh pulang :(

Share
Author:
• Sunday, February 27th, 2011

Sungai (disini disebut kanal) bersih, tapi bukan tanpa ongkos, untuk menikmati kali yang bersih dan indah itu kita dikenakan regional waterschap belasting (atau pajak sungai/kali kecamatan) yang pertahunnya tidak murah.  Bebek dan angsa yang berenang disungai juga dipelihara pemerintah, ada orang yang digaji untuk mengirim makanan bebek, kabarnya jumlah populasi bebek&angsa itu dalam pengawasan, kalau ketahuan mencuri/menyembelih bebek2 itu bisa kena denda/pidana.

Udara juga sepertinya lebih bersih (walaupun anginnya ck..ck..ck..masyaAllah) karena mobil tidak sebanyak di Ina, mungkin karena penduduknya sedikit atau rasio jalan dan mobil diperhatikan.
Caranya: transportasi masalnya dibikin nyaman, sehingga insentif bagi orang untuk memilih transportasi umum. Untuk jalan umum dibagi tiga, jalan bis dan trem sendiri biasanya paling tengah, disamping kiri kanannya jalan untuk mobil biasanya pas/sempit untuk satu mobil, hampir jarang sekali jalan dua arah, biasanya satu arah. Disebelah jalan mobil jalan untuk sepedah, dan sebelahnya lagi trotoar untuk pejalan kaki. Jalan umum/utama bisa lebar mungkin kompensasi dari bentuk rumah yang diatur ketat, biasanya rumahnya meninggi/apartemen keatas, bentuknya nyaris seragam, bagian luar ga boleh dicat macem2 (kalau mau ngecat ijin kecamatan dan kena pajak), ya mungkin karena mereka sadar luas negaranya kecil sehingga harus mengelola persepsi ruang (ingat total footbal). Hal lain pajak mobil mahal (ada pajak per bulan berdasarkan berat mobil dan merek), bikin SIM juga mahal.  Mereka juga memperhatikan soal rasio wilayah hijau/tanaman dengan luas wilayah, sepertinya karena harus berdamai dengan keadaan fisik alamnya yang kecil dan iklim laut, jadi mereka harus prihatin mungkin :D (tuh lihat saja kalau mereka bisa keluar dari Belanda, bikin villa/rumah segede2 badak di Puncak dan sejenisnya.) Udara juga penting mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit, dan juga efek jangka panjang polusi macam2 bukan?

Mereka sensi sekali soal air (baik air minum maupun airbah banjir). Air untuk mandi cuci masak dan air untuk langsung minum sama kualitasnya, sama2 langsung ngocor dari keran. Untuk mengelola air ini mereka kerja grubukan melibatkan banyak aktor: dua kementrian, perusahaan air milik publik di tingkat kecamatan, perusahaan swasta, pemerintah kecamatan itu sendiri, dan Ẃaterschapen atau waterboards yang diberi mandat oleh konstitusi. Mungkin yang studi di IHE-Unesco punya lebih banyak pengetahuan bagaimana mereka mengkoordinasikan soalan air ini. Yang jelas sebagai konsumen, saya menikmati air bersih dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal (masih jauh lebih mahal harga gas dan verwaarming/pemanas). Sepanjang di Belanda, saya mengalami sekali air dimatikan dari jam 9 – 15 sore untuk maintenance, itupun dengan surat pemberitahuan sebulan sebelumnya, dan pamflet yang dipasang di gedung. Dalam hati meuni segitunya, padahal di Bandung dulu (mungkin tergantung wilayahnya) air untuk minum Aq*a galon, air untuk masak dan mandi saya beli dari mang air yang katanya mengambil dari mata air, air untuk cuci harus membuat sistem penyaringan air tambahan di rumah yang memakai sabut, pasir aktif, dll tea, yang kalau saya hitung perbulannya lumayan besar juga pengeluaran untuk air ini :( :( :(
Memang air tidak bisa disepelekan untuk kesehatan, penyakit muntaber, infeksi saluran pencernaan, keracunan makanan juga bisa dari air yang kurang memenuhi syarat untuk konsumsi.

Makanan/jajanan sepertinya itu-itu saja. Kata saya karena mereka ga bisa masak he..he..he. (jadi marilah kita serang mereka dengan makanan kita yang enak2, prospek industri makanan masa depan ada di tangan Indonesia insyaAllah :D :D:D). Untuk yang halal di Belanda relatif tidak terlalu sulit karena banyak mas-mas Turkiye yang buka toko, dan juga Oriental shop yang tersedia dari tempe tahu sampe pete jengkol. Efek baiknya, saya jadi merasa aman dengan jajanan untuk anak2, paling itu2 lagi, kalau ga susu, yoghurt, keju, kue keju, roti, mentega, kayaknya mereka ga punya jajanan aneh2. Kalau Eropa memang kabarnya ketat dengan standar makanan (tapi ada isu ketidakadilan disini, mereka suka mengatur standar makanan yang diimpor dari negara berkembang dengan standar organik, ga boleh ini itu, tapi maunya beli dengan harga murah, I really dislike this issue of injustice! Mereka membiarkan negara berkembang terjebak pada race to the bottom (saingan banting2an harga/merendah2an diri, agar barangnya masuk Eropa). Saran: sebisa mungkin belilah produk di Eropa yang diimpor dari negara berkembang yang  memiliki logo FAIR TRADE, walaupun tidak semua ada :( :( :(
Soal makanan ini penting sebab makanan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh bukan?

Bagaimana mereka membuat warganya taat kepada aturan? tiada lain tiada bukan: UANG (stereotip bahwa orang Belanda pelit tidak sepenuhnya salah :D )
Denda untuk pelanggaran ampun2an mahalnya, jadi lebih baik tidak coba2. Hal lain, dengan ´single identity number´ maka pelanggar kewajiban sosial (pajak dan bayaran ini itu) bisa diblokir dari akses mana2, tidak bisa membuka rekening di Bank, atau kalau bukan orang Belanda, bisa kesulitan untuk masuk Belanda lagi di masa datang.
Tapi mungkin, ini juga karena pemerinah pengelola uang setidaknya bisa dipercaya oleh warganya (strong institutional building seperti isu yang gencar digelontorkan Stiglitz untuk negara berkembang).

Share
Author:
• Wednesday, February 23rd, 2011

http://www.antaranews.com/berita/247305/go-to-hell-with-your-films

Biasanya rada empet sama bung IB yang memborbardir TV dg infotainment,
tapi konten tulisannya kali ini masuk akal dan bagus! (kite kan liat konten, bukan setia pada person ya tak ya tak :D )

Untuk yang kesekian kali, kekuatan pasar Ina di ‘exercise’
setelah BBM yang berhasil ‘dimenangkan’
akankah sekarang film impor mau ditundukkan?

Uniknya, pola yang terjadi hampir sama/jelas:
membuat warga Ina ‘berantem’ dulu, pro dan kontra, kalau bisa produsen memenangkan agendanya dengan memanfaatkan sentimen warga Ina sendiri (at low or zero cost) smart ha!

Tapi yang pasti, mau begitu penjual/produsen itu kehilangan market sebesar Indonesia? saya berani bertaruh GA AKAN!!
bagaimanapun ini bisnis, duit duit dan duit.

kalau mereka berhasil membuat agendanya terealisasi, melalui warga Ina yang menolak kebijakan pemerintahnya sendiri, maka keuntungan mereka tetap melimpah ruah seperti sebelumnya atau lebih lebih.
kalau tidak, mereka akan memakai strategi memboikot produk tertentu ekspor Ina sebagai ‘pembalasan’ sampai Ina tunduk lagi.
atau, kalau tidak mereka mau tak mau akan tunduk kepada peraturan pemerintah, dan tetap dapat untung
daripada kehilangan market berjut-jut.

Jadi, akankah kekuatan pasar ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan warga Ina sendiri? atau?

Kasus yang akan/sudah berpola seperti ini:

- produksi sawit sedang dalam gempuran di-moratorium (posisi Ina saat ini produsen sawit terbesar di dunia, diikuti Malaysia, sawit juga ekspor terbesar di luar sektor minyak dan gas).  Oh please! Western & US juga telah mengalami masa2 mengeksploitasi kekayaan alam baik di negerinya maupun memeras negeri orang lain, sampai mereka mencapai level income seperti sekarang.  Dan ketika negara yang sedang membangun ini berusaha menaikkan incomenya sudah “dibebani” kewajiban sebagai penduduk bumi yang mulia untuk menyimpan hutannya sebagai paru2 dunia.

Look! China rangking 1 pengguna energi terbesar di dunia, disusul US, Indonesia…. ranking 19!!!! Tapi China, US, India menolak mengurangi konsumsi energi, US sang guru demokrasi menolak protokol Kyoto, tapi Indonesia harus maju di garda terdepan menyelamatkan dunia dengan -salah satunya-  menandatangani moratorium Oslo, what?!?!?!.  Sekali lagi yang fair, yang adil! Kita hidup disatu planet yang sama, yang saling menjaga, saling membantu, jangan sebutuhnya sendiri.

- penggunaan batubara (yang melimpah di negara non western/poor countries?) sedang berusaha di-moratorium, heyy! western sudah mengepulkan asap batubara sejak revolusi industri dan sekarang menjadi relatif kaya raya. Kemonn, yang fair2 saja, kita hidup di satu planet/desa yang punya kepentingan sama terhadap emisi CO2, tapi juga ada perut2 lapar yang sedang melakukan pembangunan, yang adil lah, jangan mau menang sendiri, diatur sama2 aza.

====

Go To Hell With Your Films

Oleh Ilham Bintang

more…

Share
Category: Tafakur  | Tags:  | 2 Comments
Author:
• Wednesday, February 23rd, 2011

Sejak submit draft research proposal hari rabu lalu, atau tanggal 16 februari, tulisan untuk tesis belum ditambah lagi.  Enam hari ini tanpa menulis satu kalimatpun, gawat!!

Tapi sudah download jurnal dan mengklasifikasikannya (excuse, belum cukup!)

Supervisor sudah menagih progres setelah dia memberikan feedback singkat.

Sepertinya setiap hari harus ada yang ditulis, entah poin2 jurnal, mencicil bab 1, 2 dan seterusnya, jangan sampai lengah!

Okay okay, sebelum ketemu supervisor Senin 28 februari, draft research proposal dan roughly bab 1 sudah diketik okay!!! (gimana caranya? mboh pokoknya usahain)

Share
Author:
• Friday, February 11th, 2011

Semalam sempat kalut ga enak hati, berbagai hal berkecamuk di pikiran, terutama adalah memikirkan, beneran ga ini thesis bisa selesai Juni? Sementara belum satu katapun ditulis, alias belum mulai. Belum ada theoretical frameworks yang jelas,  riset yang sudah ada sangat terbatas, karena topiknya baru dan lagi hot2 nya (justru kesempatan menghasilkan ´master piece’ bukan?)

Pagi ini membuka email kampus, mendapati supervisor mengirim email menanyakan kabar thesis, menawarkan pilihan bantuan.  Email yang lucu, dia berpesan please jangan panggil saya Śir´ berkesan dosen yang otoriter katanya hihihii padahal saya biasa mengemail dosen2 lain juga dengan Dear Sir,  entah kenapa ya punya kebiasaan ini :D :D:D My supervisor is indeed really nice Indian guy.

Saya bilang sedang menggarap research proposal dan di poin terakhir memberitahu bahwa sedang hamil dan perkiraan melahirkan Juli, jadi berencana lulus Juni, dengan catatan berarti ini kerja keras untuk saya empat bulan ke depan.  Di hari yang sama dia membalas email. Mengabarkan juga kalau istrinya juga sedang hamil anak kedua dan perkiraan lahiran Juni, anak pertamanya juga seusia mba nana.  So june is very important for both of us :D Dia mengatakan graduation on june would be possible, as you said it will need a lot of hard works for the next four months :D :D:D:D

Dan sepertinya dia serius agar saya lulus juni, hari ini atau senin dia menawarkan untuk diskusi theoretical framework lewat skype.  Karena hari ini ada agenda lain meringkas buku untuk dipresentasikan esok Sabtu, maka saya sudah mengagendakan senin depan, bismiLlah, jadi ada semangat :)

Share
Author:
• Sunday, February 06th, 2011

Publikasi berikut ini sayang sekali kalau sampai lewat tidak didokumentasikan.  Analisa tentang fenomena social media (facebooking, twittering, mailing, blogging) yang ternyata Indonesia hampir menjadi kampiunnya. Silahkan mencerna dan memaknai sendiri ^_^

Liputan majalah The Economist “Social-networking sites have taken off in Indonesia. Who will profit?”

WHAT does the most populous Muslim nation do in its spare time? Increasingly, it swaps gossip online.
The biggest question for everyone is how to make money from Indonesians’ interest in connecting with one another.
More click http://www.economist.com/node/17853348

Liputan majalah online IEEE Spectrum: “The Rise of Peep Culture”

We derive more and more of our entertainment from watching ourselves and others go about our lives. We’re going to enter a point where we become quite addicted to being watched. More click http://spectrum.ieee.org/telecom/internet/the-rise-of-peep-culture

Catetan ibu:

- Social media bisa menjadi’suara’ baru sebagai dissent opinion dari media mainstream, social media bisa menjadi corong suara bagi keadilan yang tertindas, orang yang terpinggirkan, membuka kesempatan baru bagi orang-orang yang selama ini sulit muncul ke permukaan karena tidak teraih media mainstream.

- Tetapi rupanya, sebagian besar social media lebih menjadi sarana ‘ourselves show’.  Bagi saya sungguh ajaib,  ada orang yang hampir setiap hari meng-update status, foto diri dan keluarga (ini  maksudnya mau ngapain ya?), apa yang diharapkannya dan kira-kira apa manfaat (nilai pendidikan dan moral) yang bisa dipetik atau diajarkan kepada anak-anaknya?.  Atau dia benar-benar tidak sadar karena telah mengalami kecanduan show off? seperti yang ditulis di IEEE Spectrum, “We’re going to enter a point where we become quite addicted to being watched”

Share
Category: Tafakur  | Tags: ,  | 2 Comments
Author:
• Friday, February 04th, 2011

Menikmati ‘digaji’ dengan tugas utama belajar, membuat posisi saya ‘nyaman’ sebagai ibu yang juga mengasuh anak.  Alhamdulillah sejauh ini tugas perkuliahan dapat dijalani dengan baik. ‘Gaji’ juga terhitung lumayan, pekerjaan utama untuk belajar, sesuai dengan kebutuhan saya sebagai ibu rumah tangga, belajar bisa diatur ketika anak sudah tertidur, atau sambil menemani anak bermain. Nyaris selama ini saya menikmati keseimbangan yang baik, tidak ngoyo bekerja dalam arti tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan, karena infrastruktur yang bagus disini, tidak ada macet, kemana2 bisa jalan kaki atau bersepedah, atau menunggu bis/kereta/trem yang jadwalnya bisa dipersiapkan karena tepat waktu, dengan informasi yang bisa diketahui dari internet, istilahnya perjalanan dapat direncanakan dengan baik.  Apalagi sistem pendidikan tinggi Belanda yang justru mengharuskan porsi belajar mandiri yang sangat dominan, peran dosen di kelas sebagai fasilitator diskusi, dan kehadiran di kelas tidak wajib, yang penting justru eksplorasi pribadi.  Lagi-lagi, ini menambah ‘kenyamanan’ saya yang lebih suka di rumah belajar, sambil mengurus pekerjaan rumah dan anak, apalagi pilihan program studi saya bukan program yang menuntut banyak eksperimen di laboratorium, program saya adalah program yang mengharuskan banyak belajar, berpikir, dan mencermati realitas sosial.

Sekali lagi, posisi saya saat ini adalah posisi nyaman (sesuatu yang patut disyukuri), ketika mempunyai anak kecil yang butuh pengasuhan intensif, pada saat yang sama mempunyai penghasilan yang kalau dibandingkan dengan standar gaji di Indonesia sudah cukup lumayan (meskipun kalau dibandingkan dengan penghasilan jika bekerja sebagai karyawan perusahaan Belanda tentu masih jauh), dan pada saat yang sama rutinitas berjalan sangat manusiawi. Tidak banyak menghabiskan waktu di luar rumah, tidak terlalu besar pengaruh hedonisme, tidak menghabiskan waktu di mall, kita bisa menjadi modest (sederhana) tanpa telinga panas karena berisik orang-orang yang berlomba-lomba -maaf- pamer.

Bagaimanapun, keinginan untuk kembali ke tanah air tetap ada, banyak hal yang tentu bisa dilakukan karena negara sedang membangun.  Saya mulai melihat-lihat melalui internet jenis-jenis pekerjaan dan standar gajinya.  Sebab untuk kembali ke tanah air harus siap lahir batin, bukan sekedar euforia dan semangat, tapi harus dengan pikiran yang adem, hati yang tenang, sudah dipikir konsekuensinya, karena tidak bisa dipungkiri kehidupan yang cukup ‘keras’ harus dihadapi dengan niat yang ikhlas, agar ridho Allah benar-benar teraih.  ’Keras’ karena negara kita sedang mengalami ‘social exercise’ yang luar biasa, segala sisi sedang ditata, pendek kata sedang ‘ditempa Tuhan’ seperti kata H.Mutahar dalam syair ‘Dirgahayu Indonesiaku’.

Salah satunya yang harus dipikirkan adalah mencari ‘penghidupan’.  Sebagian besar pekerjaan mempunyai konsekuensi yang menurut saya ‘luar biasa’, bekerja dari pagi hingga petang, termasuk harus bergulat dengan transportasinya, dengan gaji yang juga kadang ‘tak sebanding’. Tapi itu realitas, setiap pilihan ada konsekuensinya.  Sehingga harus benar-benar siap lahir batin dengan pilihan-pilihan itu, termasuk bagaimana konsekuensinya pada anak-anak.  Sejujurnya saat ini saya cukup terkaget-kaget dengan gaji di Indonesia yang secara umum di kisaran 3 jt, 5jt, 7jt, yang pada hemat saya relatif tidak begitu besar sebab mereka-mereka ini adalah tenaga ahli, dengan kualifikasi pendidikan yang baik, jam kerja yang tinggi (mungkin pergi dari rumah jam 8 pagi pulang jam 8 malam), ditambah aneka tugas-tugas kantor untuk lembur, kerja di hari libur.  Bagi yang pernah merasakan kehidupan di luar negeri, apalagi kalau gajinya tinggi, hal ini tentu akan membuat ‘shock’.

Itulah sebabnya abah dari jauh-jauh selalu mewanti-wanti, keinginan ibu untuk kembali ke Indonesia harus benar-benar disiapkan lahir dan batin, sehingga tidak banyak mengeluh nantinya.  Ada konsekuensi2, misalnya, kebersamaan kita sebagai keluarga tidak akan seperti sekarang, dimana waktu kita berkumpul sebagai keluarga cukup besar. Ibu harus siap jika misalnya nanti jam kerja abah di luar rumah lebih banyak, atau mungkin kalau abah bekerja di luar kota, ketemu akhir pekan.  Kalau menginginkan kehidupan yang lebih baik mungkin dua-duanya harus bekerja, dan ini ada konsekuensi lain yang harus diperhitungkan, misalnya soal pengasuhan anak.  Kalau ibu ingin lebih fokus ngasuh anak dan memutuskan tidak bekerja di luar rumah misalnya, maka ibu harus lebih qona’ah (nrimo dan bersyukur), tidak tertuntut lingkungan untuk mengejar materi.  Atau ibu bisa menjalankan bisnis yang bisa dikendalikan dari rumah, misalnya ibu pernah mengelola bisnis katering dan jualan online, dan bisnispun selalu ada konsekuensi sukses dan tidak sukses.  Lagi-lagi, semunya harus dipikirkan dan dipersiapkan lahir batin.  Sehingga, teramat baiklah untuk menyelami hadist Arbain yang kesatu,

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Di luar tanah air, bukan berarti tertutup ladang amal, seperti di Belanda ini, dakwah sedang mulai menggeliat, maka diperlukan pula juru-juru dakwah untuk mengantar masa depan Islam yang leibh baik.  Pendek kata, ibu benar-benar harus menata niat dengan benar,  kembali ketanah air mungkin adalah pilihan ‘perjuangan’ dimana konsekuensinya harus dijalani dengan ikhlas, seperti Hatta, seperti Syahrir, seperti Agus Salim.  Tetapi diatas itu semua, kehendak Allahlah yang akan berlaku, dimanakah takdir akan menempatkan diri untuk berjuang dan beramal.

Share
Category: Hidup di Belanda, Tafakur  | Tags: ,  | 2 Comments
Author:
• Tuesday, February 01st, 2011

Usia kandungan menginjak 4 bulan, insyaAllah janin sudah kokoh dalam rahim, kesempatan terbaik untuk ibu paling produktif dalam kondisi ini adalah kehamilan 4,5,6 bulan.  Ibu harus optimalkan masa2 ini, untuk mengerjakan master thesis, dan menuntaskan misi S2 ini.  Jangan sampai ibu lalai dan melewatkan masa2 sehat, sebelum sunnatullah wahnan ‘ala wahnin, kelemahan yang bertambah-tambah, terutama jika kandungan menginjak 8-9 bulan. Tentunya, dengan mengharapkan pertolongan dan keridhoan Allah, agar segala sesuatunya berjalan lancar, sehat, dan selamat.

Ibu percaya, insyaAllah bayi dalam kandungan akan paling terkesan dan berpotensi menjadi ahli dalam hal-hal yang paling banyak dilakukan/dipikirkan ibunya selama masa kehamilan dan yang diterimanya selama pengasuhan. Ibu yakin bahwa apa yang ibu kerjakan, pikirkan, dan tulis selama pengerjaan master tesis ‘Global Value Chain Palm Oil’ ini adalah keberpihakan pada pengentasan kemiskinan, pro poor development, dan menyuarakan fairness, keadilan antara western dan the rest, dalam bidang ekonomi dan kekuatan di percaturan global. Semoga anak ibu kelak menjadi hamba Allah yang taat, pemikir peradaban umat, dan penegak keadilan yang siap ibu waqafkan untuk dakwah dan kebangkitan Islam.  Amiinn.

Share