Archive for ◊ May, 2010 ◊

Author:
• Tuesday, May 25th, 2010

Ini kuah sop (Indonesia) bukan sup (barat, yang kentel2 tea) ^_^
Tips singkat untuk kuah yang sedap, bening, dan lembut (rasa tidak terlalu meledak-ledak). Tentunya dari guru saya ibu Enita Sriyana (ngaku-ngaku, padahal bergurunya lewat acara ‘Santapan Nusantara’ di TPI yang sudah tayang selama lima belas tahun sejak 1995 klo tidak salah, bravo!).

Nah membuat kuah sopnya mudah:

- didihkan air

- masukkan tulang ayam kalau mau kuah kaldu ayam, atau tulang ikan kalau kaldu ikan, atau tulang sapi. Kalau saya memasukkan ayamnya sekalian untuk sop, kalau di Belanda pake soup kip (mirip ayam kampung di Indonesia).

- masukkan jahe di geprek

- nah ini dia rahasianya: masukkan bawang bombai, belah jadi dua, plus seledri yg diikat, dan bu Enita jg menambahkan satu batang wortel utuh (untuk menyerap bau2an katanya) kdang saya tidak pake wortel juga enak.

- tanpa bawang putihpun sudah sedap (saya juga tidak pakai biar tidak keruh), tatapi kalau mau jg bisa, tapi jangan banyak2 biar tidak menyengat, cukup 2-3 siung peprek.

- tambahkan garam, dan merica kalau suka

- kalau mau penyajian yang bagus bisa disaring kuahnya, tambahkan irisan daun bawang, dan atau bawang goreng, tetapi kalau saya tanpa disaringpun sudah lahap he..he..

Selamat mencoba ^_^

Kuah sop ini bisa dipakai untuk sop sayuran, sop daging, kuah baso, mba nana suka sekali dengan sayur sop berkuah.

Share
Category: Dapur DKM  | Tags:  | 8 Comments
Author:
• Tuesday, May 25th, 2010

Resep ini inspirasi dari teman pengajian saya dulu di Bandung, beliau keturunan Arab yang mempunyai usaha katering, sewaktu kita ada acara rihlah dibawakan ayam bakar yang bagi saya pas rasanya, berbumbu (tidak terlalu ringan seperti resep lain yang juga akan saya tulis paling bawah), agak ke rendang tapi tidak seberat rendang. Rasa ayam bakar pada acara waktu itu terngiang-ngiang terus, dan setelah mendapat cerita singkat dari teman tersebut, langsung praktek, prakteknya berkali-kali karena menjadi salah satu favorit keluarga ^_^

Untuk 1 kilogram ayam potong besar jadi 8 misalnya.
Tips: untuk ayam bakar hindari memakai paha bawah (ga apa2 kalau suka), tetapi paha bawah suka gampang pecah ketika diungkep. Saya lebih memakai bagian sayap utuh (pangkal sayap dan sayapnya). Sehingga ayam bakar telihat mantap/besar tp gurih karena bagian sayap tsb.
Bumbu :
bawang putih 5-7 siung
bawang merah klo yg bonggol besar disini cukup 1- 2 butir besar saja
kemiri 5-7 butir
cabe merah besar/cabe tanjung, ini harus ada : 7 buah
ketumbar, kita pake yg bubuk 1 sendok makan
merica, sedikti saja 1/2 – 1 sendok teh
1-2 ruas jari jahe
Kecap.
Blender saja semuanya dg air/minyak secukupnya
Panaskan minyak untuk menumis, tumis bumbu halus sampe bener-bener mateng, tambahkan bbrp lembar daun jeruk dan 1 batang sereh, garam, kaldublok/penyedap. Tambahkan santang 250cc dan air sekitar 100cc. Aduk hingga mendidih sekali. Tambahkan kecap 3 sendok makan.
Masukkan ayamnya seperti pas kita ngungkep ayam goreng. Terakhir ketika air hampir habis masukkan kecap lagi seseleranya, 3-5 sendok makan.
kalau mau ayam bakar pedes, kecapnya dicampur dulu dengan cengek/cabe rawit hijau yg dicincang, masukkan tambah wangi ayam bakarnya.
Kalau air benar2 habis, angkat, tidak perlu langsung dibakar semuanya, bisa disimpan di kulkas untuk beberapa hari awet.
Cara Membakar :
- diatas kompor biasa bisa, tapi resikonya kompor jadi kotor, lengket, sebab minyaknya dan bumbunya ayam bisa jatuh/keluar
- panggangannya apa aja asal membuat kompor tetap bersih, ayam ini klo mau dipanggang di oven jg tetap enak.
- panggangan bisa yg pake arang, bisa yg listrik, bisa yang diatas kompor, apa saja
Ada resep ayam bakar lain yang lebih light rasanya, karena bumbunya jg simpel:
- bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe <– blender/haluskan
- tumis dg minyak panas, tambahkan garam, merica, ungkep dg air secukupnya
- air tinggal setengahnya  masukkan kecap manis
- ayam empuk, air dah habis, masukkan bbrp sendok makan mentega, ini bikin wangi dan lbh enak, klo mau jg bisa ditambahkan kecap lagi
- panggang seperti diatas.
Selamat mencoba ^^

Bahan:

Untuk 1 kilogram ayam potong besar jadi 8-10 misalnya.

Tips: untuk ayam bakar hindari memakai paha bawah (ga apa2 kalau suka), tetapi paha bawah suka gampang pecah ketika diungkep. Saya lebih suka memakai bagian sayap utuh (pangkal sayap dan sayapnya). Sehingga ayam bakar telihat mantap/besar tp gurih karena bagian sayap tsb.

Bumbu :

bawang putih 5-7 siung

bawang merah klo yg bonggol besar disini cukup 1- 2 butir besar saja

kemiri 5-7 butir

cabe merah besar/cabe tanjung, ini harus ada : 7 buah

ketumbar, kita pake yg bubuk 1/2 – 1 sendok makan

merica, sedikti saja 1/2 – 1 sendok teh

1-2 ruas jari jahe

Kecap.

Blender saja semuanya dg air/minyak secukupnya

Cara Membuat:

more…

Share
Category: Dapur DKM  | Tags:  | Leave a Comment
Author:
• Tuesday, May 25th, 2010

Share
Author:
• Thursday, May 20th, 2010

Prof.Jayati Ghosh, sayang jika tak dibagi :)
Ibu pengen bisa menganalisis sejernih & setajam beliau. Sepertinya ibu harus mengalokasikan lebih banyak malam untuk membaca, sebab siangnya untuk mba nana atau kuliah di kelas.
Sementara ini ibu akan selesaikan dulu dekomposisi economic growth (GDP): Solow-classical model, evolutionary model, endogeneous model, technological gap model.

Share
Category: Studi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Author:
• Wednesday, May 12th, 2010

Di rumah baru ini saya menemukan banyak barang warisan berharga, salah satunya ketika bersih-bersih kemarin, menemukan buku ‘how to’ interior rumah, dalam bahasa Belanda, mulai dari menjahit aneka pernak-pernik bantal, sofa, taplak meja makan, sprei, sampai menjahit sarung sofa (wah bisa gonta-ganti terus ya sofanya ^_^). Kemudian ada bab tentang cara memasang & mengatur wall paper dinding & atap, cara memasang & modif keramik (loh klo ini diserahkan ke tukang to ^_^), cara memasang rak-rakan yang simpel dan cantik ternyata, kemudian ada cara mengatur lighting, dan juga cara mengatur tanaman hidup di dalam rumah. Semuanya sangat detail, wah ini mah kesukaan ibu, bermain dengan pernak-pernik.

Tapi kapan prakteknya ya? kehidupan menjadi studenten disini cukup menuntut, nyaris sulit nyambi-nyambi. Dulu saya pikir kalau studi master maka materinya akan lebih sedikit daripada S1, wah ternyata…masih seabrek2 mata kuliahnya, mengambil suatu mata kuliah disini artinya harus konsekuen dengan jam belajarnya (beneran belajar, bukan normatif aturan SKS/ECTS), artinya sekian jam untuk persiapan kelas, sekian jam untuk tugas-tugas, sekian jam untuk persiapan exam. Apalagi dengan kondisi berkeluarga, yang artinya mempunyai tanggung jawab pula kepada suami/istri dan anak, maka saya sekarang bisa memahami kenapa orang-orang dulu sebelum saya datang ke Belanda menyarankan betapa beratnya kalau suami istri secara bersamaan masih studi master dan mempunyai anak (katanya dibandingkan kalau suami-istri sudah study PhD), dan sayangnya peringatan tersebut benar adanya :D sebab disini segala hal harus mandiri, tidak ada keluarga besar atau khadimat untuk menolong keperluan sehari-hari, sementara studi masternya demanding.

Dulu abah sempat keder juga, tapi saya yang belum tau medan maju terus pantang mundur (huh dasar!) tapi sejauh ini Alhamdulillah dapat teratasi, kuliah kami Alhamdulillah lancar, walaupun mungkin kadang-kadang muncul perasaan, aduh masih ingin membaca yang ini, aduh pengen mengerjakan tugas yang itu, aduh pengen datang ke kuliah yg ini, aduh pengin ini itu, dan semua itu harus dikompromikan dengan kondisi dan kewajiban masing-masing, siapa yang harus jaga mba nana, dst, dst. Sebentar lagi abah lulus master, saya tinggal setahun lagi, insyaAllah semoga tahun depan langkah-langkah kami menjadi lebih diringankan Allah ^_^

Jadi warning untuk suami-istri yang hendak studi master (dua-duanya) di Belanda (atau negara lain dengan tradisi akademik yang mapan & ketat) dan mempunyai anak balita, it is not that easy whe he he (lah kok ngancem), maksudnya bukan pilihan favorit (not recommended), kecuali kalau terpaksa ^_^ Tapi insyaAllah bisa, dengan pertolongan Allah, kerja keras, saling memahami antar pasangan, mudah & banyak bersyukur, saling legowo tidak memperturutkan keinginan sendiri, kadang saling merendahkan standar tidak harus begini begitu tapi berdamai dengan keadaan, dan ta’aluq bilLah, takluk bergantung kepada Allah dengan tidak henti-henti. Dan yang tak kalah penting, semua itu dapat dijalani jika hati riang dan bahagia. Setidaknya hal-hal itulah yang saya pelajari dari tempaan di kawah candradimuka ini.

**Catatan sebagai bahan bakar ibu yang dua minggu ini rada kendor kurang produktif, sementara tugas-tugas tak mau menunggu

Share
Author:
• Friday, May 07th, 2010

Heboh2 kejadian yang menghangat di tanah air, sebenarnya ini komen di status fesbuk seorang teman, komennya panjang banget (kerajinan kali ^_^), sekedar refleksi hasil riset kemarin, tentang world bank, dan sekilas competing ideas sistem ekonomi, policy dan strategi development, hanya sekilas saja.

IMHO di level global, classical/liberal ekonomi berjaya sejak revolusi industri, hingga limbung pd saat depresi 30-40an, shg saat itu resep Keynesian ekonomi diterima bahkan oleh US yg jg menganut classical, sementara itu para economist classical menyempurnakan kajian&teorinya dan menyebut dirinya neo-classical. sesudah PD-II lahir institusi produk Bretton Woods (World Bank & IMF), WB untuk pinjaman projek jangka panjang mis.infrastruktur, IMF untuk menalangi kesulitan uang jangka pendek/ balance of payment. Era kemerdekaan negara2 bekas kolonial menyebabkan negara baru berambisi untuk mensejahterakan negaranya & mencapai kesejajaran posisi dg bekas masternya, maka strategi industrialisasi dijadikan pilihan (meniru pathway rev.industri for economic growth), dg state/negara lead development, darimana kapital untuk industrialisasi? pinjaman mostly dr WB&IMF, titik berat industrialisasi adalah sektor industri berat, dan state owned company (BUMN yg dibesarkan dg uang pinjaman). Dlm perjalanannya industrialisasi tdk spt yg diharapkan (penyebabnya multi faktor, bs dibahas tersendiri), akibatnya utang menumpuk, semakin dalam bergantung pd WB untk finance projek jangka panjang, dan IMF untuk menalangi shortterm balance of payment, konsekuensinya WB&IMF sangat berkuasa pd negara2 pengutang, imbalance power.

Presiden WB akhir 70an pengganti Robert Mc.Namara adalah ekonom neo-classical, didukung oleh head of Research Dept.WB Anne Krueger yg jg pro pasar, plus pada saat itu akhir 70an, terpilihnya Reagan di US dan Tatcher di UK memperkuat arus neo-classical yg poinnya make the price right, free market. Policy WB menyalahkan campur tangan pemerintah/negara sbg penyebab kegagalan development sampai akhir 70an itu. WB merilis Structural Adjustment Program (SAP) yg sangat beken itu, masih ingat bukan? :) financial liberalization, fiscal, market liberalization, dkk, maka SAP menjadi resep policy untuk negara2 yg bergantung pd WB&IMF. Maka tdk heran arus pro pasar menjadi mainstream dg jurnal2 yg melimpah.

tetapi sepanjang 80an neo-classical based policy jg tdk menuai hasil yg diharapkan, malah disparitas income di negara miskin&developing semakin lebar, Joseph Stiglizt yg menjadi head research dept. WB di era 90an awalnya jg ekonom neo-classical yg kemudian berbalik arah, dan menjadi autokritik WB, salah satu kajian Stitglitz yg menjadi resep policy WB u/ developing country adalah peran negara/pemerintah diperlukan for certain extent, jadi yg diperlukan adalah penguatan institisi (salah satunya anti KKN), sejak itu kita mendengar istilah ‘good governance’.

Dg krisis finansial di akhir 90an, menyebabkan Indonesia kesulitan balance of payment yg amat parah, kemana lagi bergantung klo bukan memanggil IMF, maka lagi2 SAP hrus kita terapkan dg lebih gila lagi. Tetapi pengalaman pahit yg bertubi2 bagi negara developing countries membuat kepercayaan kepada WB&IMF merosot, bahkan bbrp antipati, spt amerika latin yg bener2 mengambil langkah paling beda, skr jg muncul tren untuk meminjam langsung ke bank swasta, misalnya bank2 swasta/sumber pendanaan dr timur tengah, langsung bilateral ke china, dst.

Sekarang, era 2000an isu yg berkembang adalah globalisasi, climate change, sustainable development. masalah mahzab ekonomi tidak seperti dulu yg strict neo-classical minded atau state minded, sptnya skr pada mulai sadar, we can not copy paste the same pathway of other country, competing idea msh berlangsung dg theory2 yg di klaim post modern, tetapi sisa2 kebergantungan kpd institusi bretton woods msh ada, krn utang jd tdk berdaya, pemberi utang pastilah mempunyai kepentingan, disini imbalance power. Tapi, tidak bisakah kita keluar dari lock-in kebergantungan ini? jawabannya ada pada ‘kekuatan’ pemimpin negari ini.

Kesimpulannya: knp Indonesia menganut ekonomi pro pasar, sebab ketidakmampuan untuk keluar dr kebergantungan kpd institusi Bretton Woods, termasuk ekonom2nya adalah perpanjangan tangannya sy duga. Padahal, spt prof.jimly as sidiqi ungkap, undang-undang dasar kita, telah menyatakan dg sangat tegas, ciri ekonomi yg hendak kita bangun, klo dulu yg di pasal 33 UUD’45. wallahu’alam

Share