Batuk

Share

Dari kecil saya paling mudah batuk, pergantian musim batuk,  kebanyakan main/menghirup debu batuk, dan parahnya, batuknya sering nongol pas ujian, dulu namanya EHB (Evaluasi Hasil Belajar) waktu SD, SMP ganti metode semesteran, SMA juga semesteran.  Batuknya tak kunjung reda sebab kebiasaan buruk saya yang sulit kompromi dengan batuk, misalnya meski batuk, makan goreng-gorengan, minum dingin-dingin.  Alhasil, daripada menganggu teman sekelas yang sedang ujian, kalau batuknya amat tak bisa ditahan, saya minta ijin ditempatkan di ruang khusus sendirian, boleh juga ditemani pengawas ujian.  Asal saya bisa batuk sepuasnya, menahan batuk muka bisa sampe memerah dan capekkk dehh.  Tetapi semakin beranjak besar, batuk saya semakin sangat jarang, hanya kalau flunya parah jadi lari ke batuk.

Namun di Belanda, saya jadi mudah batuk, ganti musim batuk, apalagi musim gugur dan dingin ketika suhu mulai mendingin, maka saya gampang sekali batuk.  Puncaknya pas ujian akhir semester kemarin, di kelas saya batuk-batuk saja, waduh kasian yang lain terganggu, mereka pada ketawa (dan kasian kayaknya he..he..), mau minta ruangan lain ya tidak semudah seperti dulu, sebab mereka harus arrange tempat, dan itu harus direncanakan, wah repots.. jadilah saya dipojok mengerjakan ujian tiga jam dengan diselingi batuk-batuk, meskipun sudah membawa satu bungkus permen fisherman dan sebotol air  mineral.  Teman saya Zhang memberi tahu obat China, semacam multivitamin dari sari  madu dan tetumbuhan serta rempah-rempah.

Tetapi batuk-batuk disini seperti ‘aib’ kerasa banget ga enaknya sama orang lain.. sebab biasanya hanya satu (saya sendiri) yang batuk-batuk, yang lain kok sehat-sehat ya he..he.. Sewaktu di kereta dari Eindhoven ke Delft (1,5 jam) di tengah jalan mulai deh gatal-gatal batuk, dan tidak berhenti-berhenti sekitar 15 menit, itu tatapan orang wadawww.. mungkin mereka takut saya membawa virus berbahaya, mereka terlihat merasa tidak nyaman, dan khawatir.  Saya tidak tahu kenapa, di Belanda ini orang memang jarang atau sulit jatuh sakit, tetapi kalau sakit lama pula sembuhnya, mungkin karena disini sedikit terekspos matahari, tidak seperti di daerah tropis matahari sepanjang tahun, matahari membasmi penyakit, subhanallah!

Dengan cuaca disini, mau tidak mau saya harus belajar hidup teratur, sebab batuk-batuk disini akibat tidak berbuat baik kepada tubuh sendiri.  Disini dingin sekaligus kering, konsekuensinya minum air putih harus lebih banyak (lah ini suka lupa hayo), kemudian keluar di musim dingin selain memproteksi tubuh, tangan, kaki, jangan lupa tenggorokan, walah sepanjang musim dingin saya keluar belum pernah pakai syal he..he.. (ngawur banget), tenggorokan itu yang penting di proteksi, sebab mudah sekali kering kemudian infeksi tenggorokan kemudian virus-virus bekerja, berkumpulah lendir-lendir, dan gatal dan batuk.  Kemudian sebelum menyalakan pemanas ruangan jendela sebaiknya dibuka kira-kira 1 jam agar udara luar masuk, baru ditutup dan nyalakan pemanas ruangan, sebab jika tidak maka udara di dalam rumah akan sangat kering, dan gampang memicu tenggorokan kering.  Kemudian juga sediakan baskom air dekat pemanas, atau handuk basah, agar sedikit melembabkan.

Kebayang dari surga bohemian di pulau tropis nan indah harus melatih diri hidup teratur dan sangat ‘prepare’.  Oke..tidak ada pilihan lain, saya harus sehat, sebab setiap minggunya tak kurang 80 halaman paper harus dituntaskan. Bismillah ^_*

2 thoughts on “Batuk

Leave a Reply