![]()
Tragedi naas pesawat Lion Air MD82 di bandara Adi Sumarmo Solo sungguh menyedihkan. Setidaknya 26 orang meninggal termasuk sang pilot. Pesawat naas tersebut gagal landing dengan sempurna dan masih dalam kecepatan sangat tinggi menabrak pembatas bandara dan berakhir tragis di pemakaman umum. Pertanda langit yang patut difikirkan.
Pertolongan dan penyelamatan dilakukan oleh siapapun yang berada di lokasi kejadian. Pemandangan menarik yang sebenarnya mengganggu penglihatan adalah awak kapal alias pramugari dengan seragam batik merah Lion dengan mode sepan sempit dan belahan hingga –maaf– paha atas. Dalam keadaan panik dan tegang, yang selamat berusaha menolong yang lainnya. Tak ayal lagi, seragam yang sudah memiliki belahan itu harus diangkat lebih tinggi lagi dan memperlihatkan sebagian besar tubuh pramugari. Tampak juga seorang pramugari yang nyaris baju atasannya robek menganga hingga bagian belakang punggung sangat terbuka.
Mmmhhh buat maskapai, mungkin desain seragam seksi nan cantik akan menarik perhatian dan membuat penumpang merasa ‘nyaman’. Apalagi dengan postur tubuh langsing bahkan tipis semampai dan kulit bersih sepertinya sudah menjadi kriteria dan aturan tidak tertulis menjadi pramugari. Maka busana diatas paha mode sepan sempit atau berbelah seakan menjadi nilai jual. Seperti awak kabin Singapore Air yang rok bawahnya bisa 20cm diatas lutut dan proporsi tubuh yang ceking abis.
Tetapi apakah pihak maskapai tidak memperhitungkan kondisi darurat yang mengharuskan pramugari bergerak tangkas atau bahkan ketika harus mengangkat penumpang dalam kondisi bahaya. Sedianya kostum yang mendukung akan memberikan kontribusi besar dalam pelayanan.
Seperti kostum awak kabin Garuda atau Batavia Air yang saya lihat lebih sering memakai celana panjang dan atasan rapi. Terutama saya memuji maskapai Garuda yang selalu menyertakan pramugara (laki-laki). Disamping itu juga postur tubuh yang tinggi dan berisi (ga harus binaraga lo!), membuat kenyamanan dan sedikit jaminan bahwa mereka merupakan awak kabin yang mampu dihandalkan dalam kondisi sulit. Siapa tahu harus mengangkat atau menarik penumpang.
Bisnis penerbangan adalah bisnis kepercayaan, bukan bisnis hiburan seperti umumnya. Keamanan menjadi pertimbangan utama. Performansi mesin yang baik, pilot yang handal dan awak kabin yang cekatan menjadi syarat pilihan terbang dengan maskapai penerbangan tertentu.
Sebagai penumpang, di udara saya tak hendak menanti pertunjukan betis indah atau fashion show ala pramugari. Tapi sedikit jaminan kenyamanan bahwa awak kabin merupakan tim yang bisa diandalkan.
So, it’s time for pramugari/ra cekatan bercelana panjang.

